Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag. (Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tenggara dan Ketua Komisi KUB MUI Sultra)
ADIWARTA.COM: Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kemajuan ekonomi, kecanggihan teknologi, atau megahnya infrastruktur. Bangsa yang besar lahir dari hati warganya yang dipenuhi cahaya. Cahaya iman, kemanusiaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang. Ketika cahaya itu bersemayam di dalam diri para pemuda, mereka tidak hanya menjadi generasi penerus, tetapi juga menjadi pelita yang menerangi perjalanan bangsa.
Di tengah dinamika global yang ditandai oleh derasnya arus informasi, polarisasi sosial, serta meningkatnya ujaran kebencian di ruang digital, Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu menjadi perekat persatuan. Di Sulawesi Tenggara, yang dikenal sebagai Bumi Anoa, harapan itu memiliki akar yang kuat. Daerah ini telah lama menjadi “rumah bersama” bagi masyarakat yang hidup dalam keberagaman agama, suku, bahasa, dan budaya. Keragaman tersebut bukanlah alasan untuk saling menjauh, tetapi kesempatan untuk saling memperkaya.
Agama-agama besar sesungguhnya bertemu pada satu nilai universal: memuliakan manusia. Islam mengajarkan rahmatan lil ‘alamin, kasih sayang bagi seluruh alam. Kekristenan menempatkan kasih sebagai hukum yang utama. Hindu mengajarkan Tat Tvam Asi “aku adalah engkau” yang melahirkan empati dan penghormatan terhadap sesama. Buddha mengajarkan metta, cinta kasih tanpa batas, sedangkan Konghucu menanamkan nilai ren, yakni kemanusiaan yang menjadi fondasi hubungan sosial. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi perjumpaan dalam nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Dalam Islam, Allah Swt. berfirman:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS.49:13).
Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman merupakan kehendak Tuhan. Tujuan keberagaman bukanlah kompetisi dalam permusuhan, melainkan kompetisi dalam kebajikan. Mengenal satu sama lain (ta’aruf) adalah langkah pertama menuju saling memahami, saling menghormati, dan saling bekerja sama.
Kerukunan sejati tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kedewasaan. Ia tumbuh ketika seseorang mampu meyakini agamanya secara kokoh, tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain. Semakin dalam seseorang memahami ajaran agamanya, semakin besar pula penghormatannya terhadap martabat sesama manusia. Karena itu, kerukunan bukanlah kompromi terhadap akidah, melainkan komitmen untuk menjaga kemanusiaan.
Pemuda memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun masa depan kerukunan. Mereka adalah generasi digital yang menguasai teknologi, tetapi sekaligus rentan terhadap disinformasi, provokasi, dan polarisasi. Media sosial dapat menjadi ruang penyebaran kebencian, tetapi juga dapat menjadi mimbar perdamaian. Pilihan itu berada di tangan para pemuda.
Menanam cahaya di hati pemuda berarti membangun karakter yang menjadikan ilmu sebagai cahaya, agama sebagai akhlak, dan perbedaan sebagai sarana belajar. Cahaya itu akan tampak dalam tutur kata yang santun, kemampuan berdialog tanpa mencaci, keberanian menghargai perbedaan, serta kepedulian terhadap sesama tanpa memandang latar belakang agama maupun sukunya.
Bumi Anoa memiliki modal sosial yang sangat berharga. Berbagai komunitas lintas agama telah menunjukkan bahwa persaudaraan dapat tumbuh di atas fondasi saling menghormati. Tradisi gotong royong, musyawarah, dan saling membantu ketika terjadi musibah merupakan bukti bahwa nilai kemanusiaan mampu melampaui sekat-sekat identitas. Modal inilah yang harus diwariskan kepada generasi muda agar tidak terkikis oleh budaya individualisme dan polarisasi digital.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kecerdasan spiritual dan sosial para pemudanya. Ketika hati mereka dipenuhi cahaya, mereka akan mampu melihat perbedaan sebagai rahmat, bukan ancaman. Ketika mereka memilih dialog daripada permusuhan, kasih daripada kebencian, dan persaudaraan daripada prasangka, maka kerukunan tidak lagi menjadi cita-cita, melainkan menjadi budaya.
Menanam cahaya di hati pemuda berarti sedang menanam masa depan bangsa. Dan ketika cahaya itu tumbuh di Bumi Anoa, ia tidak hanya menerangi Sulawesi Tenggara, tetapi juga menjadi inspirasi bagi Indonesia bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan kerukunan adalah jalan menuju peradaban yang damai, adil, dan bermartabat.







