close
Opini  

Membuka yang Terkunci, Menutup yang Terbuka: Dialektika Rahmat dan Kehendak Ilahi

IMG 20260621 163813
Oplus_16908288
BAGIKAN BERITA:

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

(Dosen IAIN Kendari dan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara)

 

ADIWARTA.COM: Di antara sekian banyak ayat yang berbicara tentang kekuasaan Allah, terdapat satu ayat yang menghadirkan ketenangan sekaligus mengguncang kesadaran manusia tentang batas kemampuannya.

Allah berfirman:

مَا يَفْتَحِ اللّٰهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْۢ بَعْدِهٖ ۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Mā yaftaḥillāhu linnāsi mir-raḥmatin falā mumsika lahā, wa mā yumsik falā mursila lahū min ba’dih, wa huwal-‘azīzul-ḥakīm.

“Apa saja rahmat yang Allah anugerahkan kepada manusia, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya dan apa saja yang ditahan-Nya, maka tidak ada seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”(QS. Fāṭir [35]: 2)

Ayat ini mengajarkan sebuah kebenaran yang sering terlupakan di tengah budaya modern yang memuja kendali, strategi, dan perencanaan. Manusia hari ini hidup dalam ilusi bahwa segala sesuatu dapat diatur dengan kecerdasan, teknologi, dan kekuatan finansial. Namun realitas berulang kali menunjukkan bahwa tidak semua pintu terbuka karena usaha, dan tidak semua pintu tertutup karena kegagalan.

Di sinilah Al-Qur’an memperkenalkan apa yang dapat disebut sebagai dialektika rahmat dan kehendak Ilahi.

Ketika yang Terkunci Tiba-Tiba Terbuka

Dalam perjalanan hidup, sering kali seseorang merasa berada di jalan buntu. Semua ikhtiar telah dilakukan, semua pintu telah diketuk, tetapi hasil tak kunjung datang. Lalu, pada saat yang tidak diduga, sebuah kesempatan hadir dari arah yang tak pernah diperkirakan.

Seorang pencari kerja mendapatkan pekerjaan setelah berkali-kali ditolak. Seorang peneliti menemukan inspirasi setelah mengalami kebuntuan panjang. Seorang hamba menemukan ketenangan setelah bertahun-tahun bergulat dengan kegelisahan batin.

Peristiwa-peristiwa semacam ini mengingatkan bahwa ada “tangan tak terlihat” yang bekerja di balik layar kehidupan. Dalam perspektif tasawuf, itulah manifestasi fath, yaitu pembukaan Ilahi. Bukan sekadar terbukanya peluang duniawi, melainkan terbukanya jalan yang sebelumnya mustahil dijangkau oleh perhitungan manusia.

Ibn Ataillah al-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan:

“Janganlah keterlambatan pemberian Allah membuatmu putus asa, sebab Dia menjamin pengabulan doa menurut pilihan-Nya, bukan menurut pilihanmu.”

Apa yang kita sebut keterlambatan sering kali hanyalah perbedaan antara waktu manusia dan waktu Tuhan.

Ketika yang Terbuka Tiba-Tiba Tertutup

Sebaliknya, ada kalanya seseorang telah memiliki segalanya: kekuasaan, jabatan, kesehatan, bahkan popularitas. Namun dalam sekejap semua itu dapat hilang.

Sejarah manusia dipenuhi kisah tentang imperium yang runtuh, perusahaan besar yang bangkrut, dan tokoh-tokoh yang kehilangan pengaruhnya. Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada yang benar-benar permanen selain kehendak Allah.

Ayat ini mengandung kritik halus terhadap kesombongan manusia. Kita boleh merancang masa depan, tetapi tidak pernah menjadi pemilik mutlak masa depan itu sendiri.

Dalam bahasa filsafat, manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan terbatas. Ia bebas memilih jalan, tetapi tidak berkuasa menentukan seluruh konsekuensi dari pilihannya.

Rahmat Bukan Sekadar Rezeki

Sering kali kata rahmat dipahami hanya sebagai harta atau kemudahan hidup. Padahal para mufassir menjelaskan bahwa rahmat mencakup segala bentuk kebaikan yang datang dari Allah.

Ibn Kathir menafsirkan rahmat dalam ayat ini sebagai seluruh anugerah Allah, baik yang bersifat material maupun spiritual. Sedangkan Al-Qurtubi memperluas maknanya hingga mencakup hidayah, ilmu, kesehatan, dan keselamatan.

Dengan demikian, rahmat terbesar bukanlah kekayaan, melainkan hati yang mengenal Tuhannya. Sebab seseorang bisa kaya tetapi gelisah, terkenal tetapi kesepian, berkuasa tetapi kehilangan makna hidup.

Dalam pandangan para sufi, rahmat tertinggi adalah ketika Allah membuka tabir antara diri manusia dan Sang Pencipta, sehingga hati mampu melihat hikmah di balik setiap peristiwa.

Dunia Digital dan Ilusi Kendali

Di era algoritma dan kecerdasan buatan, manusia semakin percaya bahwa segala sesuatu dapat diprediksi melalui data. Kita menghitung peluang, membaca tren, dan memetakan masa depan dengan berbagai model statistik.

Namun kehidupan tetap menyisakan ruang bagi misteri.

Ada konten yang viral tanpa strategi. Ada karya yang luar biasa tetapi tidak mendapatkan perhatian. Ada orang yang terkenal dalam semalam dan ada yang bekerja puluhan tahun tanpa pengakuan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di atas semua hukum sebab-akibat, tetap ada wilayah yang berada dalam genggaman kehendak Allah.

Kesadaran ini bukan untuk melemahkan usaha manusia, tetapi untuk membebaskannya dari kesombongan dan kecemasan yang berlebihan.

Menjadi Hamba di Tengah Misteri

QS. Fāṭir: 2 mengajarkan keseimbangan yang indah antara ikhtiar dan tawakkal. Kita diperintahkan untuk mengetuk pintu, tetapi tidak memaksa pintu itu terbuka. Kita diminta menanam benih, tetapi tidak pernah dijanjikan mengendalikan hujan.

Karena itu, kedewasaan spiritual bukanlah kemampuan mengendalikan segala sesuatu, melainkan kemampuan menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita.

Ketika Allah membuka, bersyukurlah. Ketika Allah menutup, bersabarlah. Ketika Allah menunda, percayalah.

Sebab sering kali pintu yang tertutup menyelamatkan kita dari jalan yang salah, dan pintu yang terbuka mengantar kita menuju takdir yang lebih baik daripada yang pernah kita rencanakan.

Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang menjadi penguasa atas segala kemungkinan, melainkan menjadi hamba yang percaya bahwa di balik setiap pembukaan dan penutupan terdapat rahmat dan hikmah Tuhan yang tidak pernah keliru.

Karena yang paling menenangkan bukanlah semua pintu terbuka, melainkan keyakinan bahwa pemilik seluruh pintu adalah Allah Yang Maha Bijaksana.