ADIWARTA.COM: KONAWE – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Konawe sukses menggelar kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Pariwisata. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan destinasi unggulan melalui penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata di wilayah tersebut.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Asisten 1 Setda Kabupaten Konawe, Agus Suyono, S.Pd., M.Pd., dan dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. M. Ridwan Badallah, S.Pd., M.M., serta Plt Kepala Disparekraf Konawe, Mudarman, S.Sos., M.Si. yang bertindak sebagai pemateri utama.
Standarisasi Pemandu Wisata dan Strategi Poros Pariwisata
Dalam pemaparannya, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. M. Ridwan Badallah, mengangkat tema “Standarisasi dan Sertifikasi Kompetensi Pemandu Wisata Lokal Guna Meningkatkan Mutu Pelayanan Destinasi Unggulan Sulawesi Tenggara”.
Ia menekankan bahwa pariwisata merupakan penggerak utama pertumbuhan ekonomi yang membutuhkan penguatan SDM berdaya saing, serta pengembangan destinasi yang berkualitas dan berkelanjutan. Arah kebijakan pariwisata Sultra saat ini berfokus pada peningkatan kualitas destinasi (bukan sekadar kuantitas kunjungan) serta mendorong pemerataan pembangunan pariwisata yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Untuk mewujudkan pemerataan tersebut, Pemprov Sultra menggagas Poros Pariwisata Sulawesi Tenggara. Strategi ini bertujuan untuk menghubungkan destinasi unggulan dalam satu kawasan perjalanan, menciptakan paket wisata lintas kabupaten/kota, dan meningkatkan rata-rata lama tinggal wisatawan.
Dalam strategi poros pariwisata ini, pemandu wisata memegang peran krusial. Kompetensi pemandu wisata tidak sekadar menjelaskan objek, melainkan menjadi penghubung antar destinasi yang merangkai pengalaman wisata.
Posisi Strategis Kabupaten Konawe dalam Poros Kendari Raya:
- Menjadi penyangga utama destinasi wisata Kota Kendari.
- Bertindak sebagai penghubung jalur wisata menuju Kabupaten Konawe Utara.
- Menjadi pintu utama pengembangan wisata budaya dan sejarah Tolaki.
- Menjadi pusat pendukung pengembangan wisata alam dan pedesaan.
Kabupaten Konawe sendiri memiliki potensi pariwisata yang sangat kaya, mulai dari wisata alam (air terjun, sungai, perbukitan, ekowisata) hingga wisata pedesaan (desa wisata, kuliner tradisional, dan produk kreatif lokal).
Wujudkan Desa Wisata Mandiri Melalui Pemberdayaan POKDARWIS
Pada sesi selanjutnya, Plt Kepala Disparekraf Konawe, Mudarman, S.Sos., M.Si., membawakan materi mengenai “Pemberdayaan POKDARWIS menuju Desa Wisata Mandiri”. Ia menjelaskan bahwa Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) adalah motor penggerak masyarakat sekaligus mitra pemerintah desa dalam mengelola destinasi, melestarikan budaya, dan mengembangkan ekonomi lokal.
Pemberdayaan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM, partisipasi warga, serta pendapatan masyarakat dengan mengembangkan produk wisata berbasis kearifan lokal. Pelaksanaannya berpegang pada prinsip partisipatif, inklusif, berkelanjutan, dan kolaboratif.
Mudarman memaparkan tiga strategi pokok dalam pengembangan POKDARWIS:
- Penguatan Kelembagaan: Memastikan legalitas, struktur, dan program kerja POKDARWIS berjalan jelas.
- Pengembangan SDM: Memberikan pelatihan wisata, tata cara pelayanan, digital marketing, hingga kewirausahaan.
- Pengembangan Produk Wisata: Menciptakan paket wisata alam, budaya, edukasi, hingga kuliner.
Kearifan lokal seperti adat istiadat, seni, dan kuliner memegang peran vital sebagai identitas desa yang unik, daya saing di mata wisatawan, instrumen pelestarian budaya, serta penggerak ekonomi kreatif.
Untuk mencapai status Desa Wisata Mandiri, POKDARWIS dituntut menjalankan empat peran kunci, yakni sebagai Motivator (menggerakkan warga), Fasilitator, Inovator (menciptakan produk baru), dan Promotor (pemasaran).
Proses menuju kemandirian tersebut dilakukan melalui empat tahapan yang berkesinambungan:
1. Tahap Penyadaran: Membangun kesadaran masyarakat akan potensi wisata di daerahnya.
2. Tahap Penguatan Kapasitas: Pelatihan dan peningkatan keterampilan teknis.
3. Tahap Pengembangan Usaha: Pembuatan produk wisata, penyediaan homestay, dan penjualan digital.
4. Tahap Kemandirian: Tata kelola manajemen yang profesional dengan ekosistem wisata yang bersih dan tertata.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, Disparekraf Konawe menegaskan bahwa pembangunan pariwisata dan pemberdayaan POKDARWIS bukanlah program instan, melainkan proses berkelanjutan. Kemandirian sebuah desa wisata dan kemajuan pariwisata daerah hanya bisa dicapai melalui sinergi yang kuat antara pemanfaatan kearifan lokal, standarisasi kapasitas SDM, dan kolaborasi profesional dari seluruh pemangku kepentingan.*
Editor: Icha







