close

Teguh Santosa: Penguatan Ketahanan Nasional Jadi Kunci di Tengah Runtuhnya Tatanan Internasional

IMG 20260517 WA0001

ADIWARTA.COM: PALEMBANG -Direktur Geopolitik GREAT Institute dan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, memaparkan analisanya tentang dinamika kepemimpinan nasional dan strategi ketahanan negara dalam sebuah workshop bagi puluhan content creator di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (16/5/2026).

Teguh membuka sesi dengan menegaskan bahwa setiap era menghadirkan tantangan berbeda sehingga kebijakan pemimpin tidak bisa disamaratakan antar periode. “Setiap masa memiliki tantangan yang berbeda. Kebijakan yang diambil pemimpin pada setiap era pada intinya bertujuan agar Indonesia tetap bertahan di tengah pergolakan dunia,” ujarnya.

IMG 20260517 WA0004 1
Ketum JMSI teguh Santosa Menjadi Pembicara pada pelatihan content creator di Palembang

Perbandingan empat pemimpin

Dalam paparannya, Teguh membandingkan empat tokoh pemerintahan Indonesia yang berkiprah pada masa berbeda: Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, dan Prabowo Subianto. Menurutnya, masing‑masing pemimpin menghadapi kondisi global dan domestik yang khas sehingga gaya kebijakan mereka berbeda.

Era Soekarno: fokus menjaga kemerdekaan politik di tengah Perang Dingin dan proses dekolonisasi.

Era Soeharto: menempatkan stabilitas ekonomi dan integrasi nasional pasca‑1965 sebagai prioritas.

Era Habibie: menyelamatkan ekonomi dan mengelola transisi demokrasi pasca‑krisis moneter.

Era Prabowo: menghadapi gejolak sistem internasional dan kebutuhan konsolidasi internal.

Konteks internasional berubah

Teguh menyoroti perubahan konstelasi global pada awal 2026 yang, menurutnya, menandai runtuhnya sebagian tatanan multilateral yang sebelumnya dipandang stabil. Situasi itu, kata dia, mengurangi ruang bagi negara untuk bergantung pada jaminan keamanan dan ekonomi dari pihak lain, sehingga mendorong penguatan kapabilitas domestik.

“Dalam beberapa bulan pertama 2026 saja kita sudah menyaksikan keretakan sistem internasional akibat pertikaian yang melibatkan kekuatan besar. Hal ini memaksa kita mengarahkan kebijakan pada konsolidasi internal,” jelas Teguh.

Inclusive security dan kebijakan domestik

Teguh menyebut pendekatan yang kini dipilih pemerintah sebagai prinsip inclusive security, yakni membangun kemampuan bertahan dari dalam dan bertanggung jawab atas keamanan sendiri. Ia memaparkan beberapa program yang menurutnya strategis untuk memperkuat fondasi nasional, antara lain program makan bergizi gratis, Koperasi Merah Putih, sekolah rakyat, serta hilirisasi industri.

“Ini bukan sekadar program sosial. Ini langkah strategis untuk mengokohkan kuda‑kuda bangsa agar tidak goyah ketika badai datang,” ujar Teguh.

Pelajaran dari China dan logika hilirisasi

Teguh menyinggung pengalaman China pada awal 2000‑an yang berhasil melakukan industrialisasi dan hilirisasi besar‑besaran untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok asing. Ia mengingatkan risiko jika Indonesia terus menjadi pengekspor bahan mentah dan pengimpor barang jadi, yaitu kerentanan struktural.

“Tanpa hilirisasi, kita akan tetap berada pada posisi yang rentan secara struktural,” tukasnya.

Rujukan teori realisme

Untuk memperkuat analisisnya, Teguh merujuk pemikir realisme politik seperti Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz. Ia mengutip prinsip bahwa dalam sistem internasional yang anarkis, negara dituntut untuk melakukan self‑help dan tidak dapat semata‑mata berharap pada kebaikan negara lain.

“Morgenthau mengingatkan bahwa kepentingan nasional menjadi penentu dalam politik internasional. Waltz menegaskan bahwa struktur sistem memaksa negara melakukan self‑help,” kata Teguh, lalu menambahkan bahwa kebijakan penguatan kapasitas domestik era Prabowo selaras dengan logika tersebut.

Pesan untuk content creator

Menutup sesi, Teguh mengajak para content creator untuk membangun narasi publik yang berlandaskan pemahaman geopolitik. Ia meminta agar konten yang dibuat membantu publik memahami bahwa kebijakan saat ini adalah upaya penataan ulang posisi strategis Indonesia, bukan sekadar mengikuti arus global.

“Narasi yang kalian bangun harus berbasis pemahaman bahwa Indonesia sedang menata ulang posisinya, bukan sekadar mengikuti arus, tapi menciptakan arus sendiri,” tutup Teguh.

Editor: Saldy