close

KOMDIGI Dan DPR RI Gelar Webinar Bertajuk Penguatan Ideologi Pancasila Di Tengah Tantangan Bangsa Di Era Digital

IMG 20260703 WA0069
BAGIKAN BERITA:

ADIWARTA.COM: JAKARTA – Penguatan ideologi Pancasila dinilai bukan lagi sekadar hafalan teks, melainkan kebutuhan mendesak sebagai “perangkat lunak keamanan” bangsa di tengah gempuran disrupsi digital. Arus informasi yang masif, perkembangan kecerdasan buatan (AI), hingga krisis etika bermedia menuntut masyarakat Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai kompas moral dalam menyaring konten global.

Hal ini menjadi poin kunci dalam Webinar Forum Diskusi Publik bertajuk “Penguatan Ideologi Pancasila di Tengah Tantangan Bangsa di Era Digital“. Acara yang digelar secara daring oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) bersama DPR RI pada Kamis (2/7) ini menegaskan bahwa ruang digital kini telah melebur dengan kehidupan nyata.

Anggota DPR RI, Dr. H. Sukamta, menyoroti bahwa algoritma media sosial tidak pernah netral; ia selalu membawa nilai dan kepentingan tertentu. Oleh karena itu, kesadaran berbangsa harus tetap dijaga meski teknologi terus berubah.

“Digital bukan lagi sekadar gangguan, tetapi sudah menjadi irama hidup kita. Kita wajib memiliki alat saring internal agar tetap sadar sebagai warga negara yang berpegang pada Pancasila,” tegas Sukamta. Ia menekankan bahwa tanpa fondasi ideologi yang kuat, identitas kebangsaan rentan tergerus oleh budaya asing yang masuk tanpa filter.

Senada dengan itu, Peneliti NEXT Indonesia, Asep Rohmatullah, memposisikan Pancasila sebagai sistem nilai yang utuh. Ia menggunakan analogi bangunan negara: Pancasila adalah pondasi, UUD 1945 adalah kerangka, NKRI adalah rumahnya, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah perekatnya.

Meski survei menunjukkan mayoritas rakyat masih meyakini Pancasila sebagai rumusan terbaik, Asep mengingatkan ancaman baru berupa radikalisme digital dan infiltrasi ideologi. “Pancasila bukan warisan masa lalu, tapi perangkat lunak keamanan masa depan. Literasi digital harus berjalan beriringan dengan penguatan ideologi agar kita bijak bermedia,” paparnya.

Dari sisi generasi muda, Ketua DPD KNPI Gunungkidul, Wahyudi Syakuri, mengajak anak muda untuk mengambil alih narasi di ruang maya. Ia menilai pemuda memiliki peran strategis untuk melawan hoaks dan ujaran kebencian dengan konten positif.

“Mari banjiri ruang digital dengan konten kreatif bernafaskan Pancasila. Jangan biarkan teknologi memecah belah, justru jadikan sarana memperkuat gotong royong dan kepedulian sosial,” seru Wahyudi.

Forum diskusi ini menyimpulkan bahwa kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, organisasi kepemudaan, hingga komunitas adalah kunci utama. Tujuannya satu membangun ekosistem digital yang sehat, beretika, dan berdaya saing, dengan Pancasila sebagai fondasi yang tak tergoyahkan menuju Indonesia Emas.

Editor: Saldy