ADIWARTA.COM: KONAWE – Di balik rutinitas sebagai Bupati Konawe yang lekat dengan rapat, agenda pemerintahan, tata kelola daerah, dan berbagai persoalan kesejahteraan masyarakat, Yusran Akbar memiliki sisi lain yang jarang tersorot.
Jauh dari suasana formal pemerintahan, ia justru terlihat sederhana. Mengenakan kaus oblong, memegang mesin serut kayu atau planer, dan membiarkan serbuk gergaji menempel di pakaian maupun wajahnya.
Di tengah kesibukannya sebagai orang nomor satu di Kabupaten Konawe sekaligus Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Tenggara, Yusran tetap menyempatkan diri kembali ke dunia yang telah dikenalnya sejak remaja: pertukangan kayu.
Bagi Yusran, aktivitas tersebut bukan sekadar hobi untuk mengisi waktu luang. Dunia kayu menjadi bagian dari perjalanan hidup sekaligus ruang untuk mengingat kembali akar kehidupannya.
“Awalnya memang karena kebutuhan. Tapi semakin ditekuni, saya menemukan banyak pelajaran hidup di dalamnya,” ujar Yusran saat ditemui di sela-sela aktivitasnya mengolah kayu.
Dari Kayu, Belajar tentang Ketelitian dan Kesabaran
Yusran mengaku mulai mengenal dunia pertukangan sejak masih remaja di Kabupaten Konawe. Kala itu, keterampilan mengolah kayu menjadi bagian dari upayanya membantu keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan hidup.
Dari sana, ia kemudian menemukan bahwa kayu tidak sekadar material yang bisa dipotong dan dibentuk. Ada proses panjang yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta kemampuan membaca karakter setiap bahan.
Menurutnya, kayu yang keras tidak dapat ditaklukkan dengan emosi. Seratnya harus dipahami, ukurannya harus diperhitungkan, kemudian dibentuk secara perlahan hingga menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Filosofi itulah yang kemudian ia bawa dalam kehidupan, termasuk ketika menjalankan tugas pemerintahan dan aktivitas politik.
Sebagai Ketua DPW PAN Sultra, Yusran mengusung semangat “Kerja Cepat Bantu Rakyat”. Baginya, bekerja cepat bukan berarti bertindak tergesa-gesa, melainkan mampu membaca kebutuhan dan mengambil keputusan secara tepat.
“Kerja Cepat Bantu Rakyat itu bukan berarti tergesa-gesa tanpa arah. Seperti memotong dan menyerut kayu, kita harus cepat, tepat, dan presisi. Jika lambat, kayu bisa lapuk. Jika salah ukur, hasilnya tidak berguna,” katanya.
Ia menilai prinsip tersebut juga relevan dalam pemerintahan. Menurutnya, kebutuhan masyarakat tidak selalu bisa menunggu proses yang berlarut-larut. Pemerintah harus mampu merespons persoalan secara cepat, tetapi tetap dengan perhitungan yang matang.
“Dalam pemerintahan, kecepatan merespons kebutuhan masyarakat adalah kunci,” tegasnya.
Bengkel Kayu Menjadi Ruang untuk Kembali ke Akar
Di tengah hiruk-pikuk politik dan padatnya aktivitas pemerintahan, Yusran mengaku menemukan ketenangan ketika kembali mengerjakan kayu.
Suara mesin serut yang bekerja, aroma kayu, hingga serbuk gergaji yang berhamburan justru menjadi suasana yang membuatnya merasa dekat dengan kehidupan yang pernah dijalaninya.
“Di tengah kebisingan mesin serut itu, saya menemukan ketenangan. Di situ saya ingat dari mana saya berasal,” ungkapnya.
Baginya, mengolah kayu juga menjadi semacam ruang refleksi. Saat meratakan papan yang kasar menjadi permukaan yang halus, ia menemukan gambaran tentang bagaimana sebuah daerah seharusnya dibangun.
Ia memandang pembangunan tidak cukup hanya dengan mengejar hasil akhir. Setiap proses membutuhkan ketelitian agar tidak ada bagian yang terabaikan.
“Seperti kayu, masyarakat kita juga butuh ‘diserut’ dengan kebijakan yang tepat agar permukaannya rata, tidak ada yang menonjol dan saling bergesekan. Hasilnya, sebuah bangunan yang kokoh, yaitu Konawe yang maju dan sejahtera,” paparnya.
Tetap Merakyat di Tengah Jabatan
Aktivitas Yusran di bengkel kayu juga memperlihatkan sisi lain dari seorang kepala daerah. Tidak ada jas, meja rapat, maupun protokoler. Yang terlihat hanyalah seorang pria yang bekerja dengan tangannya sendiri.
Bagi masyarakat yang pernah melihatnya, pemandangan tersebut memperlihatkan sosok pemimpin yang tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tidak melupakan perjalanan hidupnya.
Keterampilan sebagai tukang kayu menjadi pengingat bahwa sebelum mengenakan jas birokrat dan menduduki jabatan publik, Yusran adalah bagian dari masyarakat yang tumbuh melalui proses dan pengalaman.
Dari kayu, ia belajar bahwa sebuah bangunan yang kokoh membutuhkan fondasi yang kuat. Dari pengalaman hidupnya pula, ia memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan keberanian untuk bekerja.
Kini, di tengah kesibukannya memimpin Konawe dan menjalankan aktivitas politik di Sulawesi Tenggara, Yusran tetap memilih kembali kepada kayu.
Bukan semata untuk menghasilkan sebuah perabot atau karya, tetapi untuk mengingat kembali siapa dirinya dan dari mana ia berasal.
Sebab, bagi Yusran Akbar, semakin tinggi seseorang berdiri, semakin penting untuk tidak melupakan akar yang membuatnya mampu tumbuh.*
Editor: Saldy







